move

setelah berhasil mengalahkan negara api, maka terbitlah film pendek ini. selamat menikmati...
http://www.youtube.com/watch?v=ogMV-IFaw0A

tamparan dari surga

kemeja abu-abu yang kukenakan malam itu sudah mulai terasa lengket. keringat yang berlapis-lapis di tiap bagian lipatan tubuh mulai mengeluarkan aroma tak menyenangkan bagi orang-orang disekitarku. Dengan segenap ingatan tentang iklan indomie layaknya di televisi, ku sedot satu gempulan garpu penuh mie rasa kaldu ayam. aku selalu ingat dede teman seangkatanku ketika indomie tersaji di mejaku. dari keseluruhan cita-cita yang pernah kudengar, menurutku cita-citanya adalah yang paling mulia dan tak terpikirkan oleh orang lain. memiliki satu buah cafe yang menyajikan indomie persis dengan saran penyajian yang ada di bungkusnya. menurutku cita-cita dede itu akan mewadahi keinginan banyak orang mengingat Indomie adalah satu-satunya pilihan rakyat indonesia yang tidak pernah menghianati rakyat.

sebelum melenceng ngomongin dede dan negara, aku akan kembali ke jalan yang lurus dan membagi cerita tentang tamparan indah yang kudapat dari seorang pemulung yang kira-kira berusia 50 tahun.

bersama Ilang, motor yang kami kendarai kemudian membawa kami ke sebuah tempat ngopi yang akhir-akhir ini menjadi tempat favorit. ketika sedang asik berdiskusi mulai dari masalah negara sampai menggosipi senior kami yang tetap bertahan dengan ideologi yang dia pegang, perhatianku ditarik oleh seorang pemulung yang mendorong gerobak sampahnya dan tiba-tiba datang dan duduk beristirahat di samping tempat dudukku.

lelaki paruh baya itu kemudian melempar senyum kepadaku sambil meminta izin untuk duduk beristirahat dengan menggunakan bahasa tubuh. akupun tersenyum balik kepadanya dan kembali bercerita dengan teman-temanku. dua menit berselang, hatiku tergerak untuk mengajaknya makan. kubalikkan badanku menghadap ke arahnya kemudian menanyakan apakah dia sudah makan atau belum. dia membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan. akupun beranjak dari tempat dudukku dan memesan satu mangkuk indomie kuah untuk si pemulung berkaos biru itu.

dua meja sebelum tempat dudukku. aku melihat pemulung tersebut melambaikan tangannya ke arahku. dengan setengah berlari aku mneghampirinya. aku kemudian menyampaikan kepadanya bahwa aku telah memesankan makanan untuknya. diluar perkiraanku, pemulung yang ternyata bisu itupun hanya melambai-lambai dan langsung berdiri kemudian mendorong gerobak sampahnya menjauhi tempatku.

aku diam.

entah mengapa tetesan hangat terasa mengalir di pipiku. aku tiba-tiba merasa malu dengan kejadian hari itu.  apa yang bisa aku katakan? mungkin kalian bisa menyimpulkannya sendiri. diantara kami yang sedang membicarakan negara, masalah sosial, keadilan yang tak pernah terealisasi dan segala yang seolah-olah bisa kami perbaiki hanya dengan berbicara, Tuhan secara tiba-tiba mengirim seseorang dari surga untuk menampar kami. memastikan kami sadar bahwa kami terlalu banyak berdusta kepada diri sendiri. membual dengan segala ketidak mampuan kami.

aku melihat sosok orang yang merasakan surga dimanapun juga. dengan harga diri yang terjaga dan segala usaha yang tak main-main. pemulung itu membuatku tak lagi berpikir tentang surga yang free wifi, atau outlet j.co disamping kolam susu firdaus. surga ada ketika kita mensyukuri apa yang ada dan tidak terlalu berharap pada orang lain. terimakasih bapak pemulung.


back to start

apapun yang menjadi alasan ketidaknyamanan belakangan ini, satu yang perlu kita ingat. kegilaan ini tidak menghasilkan apapun.
seberapa banyak makian yang saling kita lontarkan tidak akan membawa kita pada lingkaran kesepakatan.
kita sama-sama tahu bahwa berdebat bukanlah tujuan. berdebat hanyalah media untuk mencapai kesepakatan.
atau bahkan kita sampai pada klimaks dimana kita saling percaya bahwa kita sama-sama tidak bisa dipercaya.

waktu membuat semua terungkap.  bukan aku yang berubah, bukan juga kamu.
kita hanya baru sama-sama tahu  kalau kita punya sisi gelap masing-masing.

tidak ada yang sama, tidak juga yang berubah. hanya kita yang makin tahu satu sama lain.

bukan keadan yang makin membuat kita tidak nyaman, tapi kita yang membuka semua sekat diri yang selama ini kita tanam bersama hasrat yang tersembunyi. mungkin karena kita sudah menganggap diri kita adalah bagian dari yang lainnya.

miris.

empat tahun dierami, ahirnya siap menetas

foto di atas bukan sekedar kertas. bukan sekedar tulisan, tidak hanya sekedar kumpulan ide yang terangkum dalam satu klipan hekter. foto diatas adalah mimpi yang menjajah semenjak empat tahun lalu.
tolong doakan impian diatas agar cepat menjadi kenyataan. doakan editornya sehat selalu, tidak punya masalah pencernaan atau kutu air yang membuatnya terhalang untuk mengedit naskah presiden kelinci. doakan agar kiamat belum terjadi.

all in one


Minggu, 3 maret 2013 di seputaran gedung kesenian yang bau air seni

Dear sumiku yang entah siapa. Tulisan kali ini kudedikasikan untukmu yang kutulis diantara para laki-laki yang  menguap bersama asap rokok mereka. Diantara ratusan motor yang terperkir berjejeran bersama cacing tanah yang makin silau dengan terangnya lampu mercuri.
Mungkin kamu akan bertanya nanti apakah aku pernah bersama laki-laki di jam selarut ini, dan jawabanku akan kuurai di tulisan kali ini.
Wahai suamiku yang nantinya untukmu aku mengabdi sejak terbitnya matahari sampai terbenam mata sumai yang tidak lain adalah kau, taukah kamu mengapa ikan begitu nyaman dengan air putih dan mabuk ketika berada di air teh? Aku pernah menelitu tentang hal itu sayang, entah kenapa belakangan aku begitu tergila-gila dengan mahluk yang berenang itu. Menurutku hidup mereka begitu mudah. Mereka menganut system all in one. Semuanya air. Mereka bisa tenang makan di dalam air tanpa harus memikirkan kotoran yang barusaja mereka buang di air tempat mereka makan. Mereka tidak pernah merasa haus dan dehidrasi karna tempat mereka tinggal selalu memberikan kesegaran. Mereka tidak perlu bersusah payah mandi ketika mereka banyak beraktifitas, dan mungkin masih banyak all in one ikan lainnya yang belum sempat kurenungkan.
Sayang, aku Cuma ingin mejadi air bagimu. Tempat dimana kau bisa mendapatkan segalanya. Itulah alasan mengapa aku masih lima meter dari aspal pada jam selarut ini. Ngomong-ngomong, tolong pijit aku dong. Lagi flu nih.

sebelum pulang

pesan ini coba kuselipkan diantara bilangan biner yang berterbangan di ruangan yang menjadikan kita tawanan selama tujuh hari.
ruangan dimana karbondioksidabkita saling bertukar satu sama lain hingga lelah dan sesak menjadi alasan untuk bertahan hidup.
ruang dimana kita merasa tak terbatasi satu sama lain. saling menafsirkan, saling digambarkan.


terimakasih untuk semua yang ada di dalam ruangan ini. terimakasih untuk udara yang tetap memilih masuk dalam paru-paruku meskipun banyak orang di sini yang mungkin menjadi pilihannya. terimakasih untuk setiap tatapan mata sinis, kagum bahkan jijik yang membangun. terimakasih.

apa kabar awan?

apa kabar awan?
apa kabar kawan?
apa kabar lawan?
apa kalian masih menawan?

aku lelah menjadi tawanan.
mari kita keluar dari zona an-an yang tidak mengesankan.
kita mulai saja dari hati ke hati. meskipun aku tak yakin kalian punya hati, akan ku pinjamkan hatiku sejenak agar kita sama-sama merasa. merasa akan perasaan yang makin lama makin tumbuh dan berakar.

apa kau rasakan itu?
coba replay kembali bagian tadi pagi. bagian dimana kita saling tersenyum dengan mata merah kita. dimana kita saling menghangatkan sementara kita sendiri menggigil kedinginan.
apa kau sempat mengintip itu awan?

 

Presiden Kelinci © 2012 | Muda, Bermutu dan Selera Semua Umat
Redesigned by @sleepingpasa