sebelum pulang

pesan ini coba kuselipkan diantara bilangan biner yang berterbangan di ruangan yang menjadikan kita tawanan selama tujuh hari.
ruangan dimana karbondioksidabkita saling bertukar satu sama lain hingga lelah dan sesak menjadi alasan untuk bertahan hidup.
ruang dimana kita merasa tak terbatasi satu sama lain. saling menafsirkan, saling digambarkan.


terimakasih untuk semua yang ada di dalam ruangan ini. terimakasih untuk udara yang tetap memilih masuk dalam paru-paruku meskipun banyak orang di sini yang mungkin menjadi pilihannya. terimakasih untuk setiap tatapan mata sinis, kagum bahkan jijik yang membangun. terimakasih.

apa kabar awan?

apa kabar awan?
apa kabar kawan?
apa kabar lawan?
apa kalian masih menawan?

aku lelah menjadi tawanan.
mari kita keluar dari zona an-an yang tidak mengesankan.
kita mulai saja dari hati ke hati. meskipun aku tak yakin kalian punya hati, akan ku pinjamkan hatiku sejenak agar kita sama-sama merasa. merasa akan perasaan yang makin lama makin tumbuh dan berakar.

apa kau rasakan itu?
coba replay kembali bagian tadi pagi. bagian dimana kita saling tersenyum dengan mata merah kita. dimana kita saling menghangatkan sementara kita sendiri menggigil kedinginan.
apa kau sempat mengintip itu awan?

penghuni baru

selagi masih muda, masih ngekost dan masih belum punya anak, gue selalu ngerasa kesepian tiap kali pulang ke haribaan kosan yang mulia. ketika gue buka pintu dan hanyalah kehampaan yang gue dapat dari dalam kamar kosan yang hawa panasnya makin membara ketika gue masukkan kaki kanan terlebih dahulu. bukan karena kamar gue horor, tapi karena guelah satu-satunya makhluk bernafas yang ada di kamar kosan gue. gue merasa sendiri, gue merasa dikucilkan oleh semesta ketika berada di ruangan 3x4 meter itu. gue ngerasa gak berguna bagi kehidupan makhluk lain. gue ngerasaaa... stop. ini jijik vin.

pada akhirnya gue memutuskan untuk memelihara binatang yang kira-kira biayangya kecil, pupnya kecil, sama perhatian yang dia minta juga gak banyak2 amat. cicak masuk kategori sih,tapi kalo lagi tidur terus diee'in, baunya juga gak main-main. nyamuk apa lagi. nyamuk malah gak usah beli. modal baju kotor aja sama tidur gak usah pake selimut mah nyamuknya bakal hidup sejahtera. tapi kalo melihara nyamuk, nyamuknya bakalan sehat, guenya yang jadi keos.

hingga tibalah suatu hari yang telah tertulis di kitab yang ada di langit. dimana hari itu gue bakal ketemu sama tiga makhluk lucu yang gue kasih nama cici,mimi, sama pipi. kenapa gue kasih nama cici? karena aurel terlalu mainstream.

makhluk beruntung tersebut adalah ikan. gue milih ikan karena ikan bisa dimakan ketika gue laper dan gak ada duit. hal ini manusiawi bagi anak kosan. bayangin aja gue melihara hamster. masa gue makan hamster? beruntung banget hmsternya gue makan. ihhh

ini dia nih tiga ekor pelipur lara. doain umur panjang yah, terus banyak rezeki. gue sih gak tahu yang mana cowoknya yang mana ceweknya. semoga aja salah satu dari mereka nanti ada yang hamil. dan yang ngehamilin itu adalah ikan yang bertanggung jawab. amin.

subuh

karbondioksida dimana-mana. asap mengepul dengan bangga dalam remang-remang kamar yang tak sebesar musholah sekolah dulu. aku yang tidur tengkurap menghadap ke arah timur sesekali menghadap ke kanan sambil menanggapi guyonan yang makin malam makin absurd.

bungkus rokok dibagian kanan seolah melambai-lambai kearah para cowok yang mengelilingiku. ah, tulisan kali ini agak redup. redup seiring dengan sayup-sayup azan yang menegur laptop untuk menghentikan nyanyian sang sheila on 7.

mari tidur sebelum ditiduri. tuh kan absurd.

cafe ogi

bulir air di plastik pembungkus milo dingin kian dekat mendekati meja yang terbuat dari kayu. kelihatannya si meja ini sudah berumur lebih dari dua tahun.
si gendut berkaca mata dengan lambang himpunan teknik di lengan kanannya duduk tepat dibelakang orang didepanku. tak henti-henti ia membasahi bibirnya sembari mengungkapkan beberapa kata yang kemudian membuat teman di depannya tertawa terpingkal-pingkal.
tak jauh darinya ada pohon semi bambu. semacam bambu tapi tak serupa dengan bambu. daunny sama, batangnya juga, namun berukuran mini. aku tak tahu apa namanya, aku lebih suka menyebutnya pohon semi bambu dibandingkan harus bertanya ke orang-orang pendahulu cafe ogi tentang nama pohon tersebut.

jarakku saat ini tiga meter dari gerbang masuk ke cafe. tak kukatakan pintu karena aku tak menemukan daun pintu disana. dengan setengah gelas milo, kucoba untuk menyelesaikan tulisan kali ini. tulisan dengan sekeliling yang bising. bising yang menyenangkan. bising yang menenangkan.

ami

tas tangan bertuliskan STOP TO START terletak tepat di samping sepatu converse warna hitam yang sudah masuk kategori rombeng itu hanya berjarak lima cm dari kaki ami. jemari kaki yang mengandung banyak kulit mati itu sesekali bergoyang seiring jari tangannya yang sedaritadi sibuk menyambungkan apa yang ada di pikirannya dengan kalimat yang muncul di layar laptop. entah mengapa menulis malam ini menjadi lebih berat dari biasanya. sesekali jari tangannya terhenti karena ketidak sanggupan saraf sensorik menghantarkan pesan dari otak ke jari tangan. lebih tepatnya sih saraf sensoriknya tak sudi karena apa yang ingindia tuliskan berlawanan dengan apa yang diperintahkan otaknya.

satu kalimat, dua kalimat, tiga kalimat, hapus lagi. menekan tombol backspace seolah menjadi ritual wajib setelah menuliskan beberapa kalimat sebelumnya. nampaknya gerimis sore tadi masih membawa efek samping yang diluar dugaan. bukan soal gerimisnya, tapi apa yang terjadi saat gerimis.

dunia memang selalu punya cara untuk memberi kita kejutan. ulang tahun ataupun bukan dunia tak mau peduli. dan nampaknya ami adalah nama yang muncul dari hasil kocokan arisan panci antara dunia dengan dirinya sendiri. atau mungkin malaikat. Tuhan juga. entahlah.

senin sore yang penuh kepenatan. setelah mengawali pagi dengan membuat status "monster day" di akun jejaring sosial miliknya, amipun harus menghantar kepergian matahari dengan segenap amarah dari bosnya di kantor yang kadang sulit membedakan mana urusan pribadi dan yang mana urusan kantor. ironis memang, bawahan seolah punya label di belakang kerah yang menegaskan bahwa semua kesalahan berasal dari bwahan. tapi kita tinggalkan saja dulu bosnya yang memiliki perut berdiameter setengah meter dan beralih ke hal yang lebih ramping yaitu wanita sekantornya, wina.

wina yang berkaki jenjang, pinggul yang aduhai, body bak model papan catur dan juga rambut hitam yang sengaja diberi warna agak joklat sehingga terlihat memadu dengan hidungnya yang mungil, pipi tirus dan juga bibirnya yang tipis. matanya yang kecoklatan menambah kesan sexy pada wina. ya, memang itulah yang diinginkan wina. sekretaris dengan body semriwing dan menjadi primadona kantor.

saeperti biasa, cewek cantik itu memiliki keuntungan dalam hidup yaitu setengah dari masalah hidupnya sudah teratasi. layaknya hari ini. kesalahan yang harusnya ditanggung oleh wina sontak berpindah ke ami, lagi-lagi karena wina adalah wanita cantik.

ami tak pernah menyalahkan wina atas apa yang terjadi padanya hari ini. ami juga tak pernah menyalahkan wina yang tinggal sebulan lagi akan menikah dengan Erwin laki-laki pujaan ami. erwin dulunya adalah teman sebangku ami di SMP bakti jaya. sosok erwin yang tinggi, gagah dan berkarisma membuat ami tak bisa berpaling kepada laki-laki lain. semanjak ami mengenal Erwin, ami seolah menemukan dunianya. menemukan kompasnya yang hilang, menemukan ranting yang patah, jarum yang jatuh dan apapun itu yang perlu ditemukan. tapi lagi-lagi sayang, wanita cantik selalu sepuluh langkah lebih dulu. ami hanya bisa menjadi pengagum, dan sebulan lagi wina akan menjadi seseorang yang merawat erwin sehingga akan terus pantas untuk dikagumi oleh ami.

lagi-lagi ami tak menyalahkan wina, tak juga menyalahkan Erwin. ami kadang hanya mempermasalahkan dirinya sendiri. kenapa ia bisa sekantor dengan wina yang notabene adalah saingannya yang jelas-jelas merebut Pujaan hatinya? kenpa ia harus sesakit ini kalau Erwin memang bukan miliknya? dan kenapa pula ia harus jatuh cinta kepada Ahmad Erwin yang nama hanya berjarak satu nama setelah namanya sendiri di absen kelas yaitu Ahmad Amiruddin? mengapa?

titik. jari tangan ami berhenti, seiring dengan air mata yang membasahi pahanya.

cobain aja dulu. urusan pengen nambah nanti bilang aku aja

 

Presiden Kelinci © 2012 | Muda, Bermutu dan Selera Semua Umat
Redesigned by @sleepingpasa